Tentang Penghapusan KRL Ekonomi



Seorang anak kecil mengadu kepada ibunya kalau gigi-nya sakit, lantas sang ibupun membawa si anak untuk mengobatinya ke dokter gigi. Ini adalah ilustrasi umum, apabila kita memiliki permasalahan kemudian kita berusaha memecahkannya. Lalu apakah sang dokter menyuruh si anak ganti gigi baru? atau yang paling ekstrim ganti kepala saja agar sang anak tidak sakit gigi??


Bahkan seorang Dahlan Iskan sudah mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi pada KRL Ekonomi. Saya kutip dari acct twitter beliau @iskan_dahlan."Tentu bbrp kali. Itu bukan milik KAI. Setahun lalu mogok 1.200x, akibatnya ganggu KRL 4.200x." Masalah di KRL Ekonomi adalah gerbong yang sudah tua dan kurang layak digunakan lagi. Kalau kita meng-analogikan dengan ilustrasi anak di atas, seharusnya gerbong KRL Ekonomi diperbaiki kualitasnya entah diperbaiki atau diganti dengan gerbong baru dan bukannya lantas KRL Ekonomi dihilangkan. Sama saja sang dokter bukannya mengobati sakit gigi tapi giginya dihapusin aja :-). Kita tidak usah mengajari pak menteri khan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sayangnya statement beliau di detikcom tidak secara nyata bahwa KRL Ekonomi HARUS dihapus.(belakangan katanya beliau yg mengusulkan KRL Ekonomi untuk dihapus)

Belum lagi statement dari pejabat KAI, Humas PT KAI Pusat Mateta Rizalulhaq "Kami itu prioritas keselamatan. Kalau masalah keselamatan dan biaya memang tidak akan pernah nyambung. Kita tidak bisa memungkiri KRL ekonomi tak layak beroperasi, menyangkut keselamatannya dulu," Sebagai mantan pengguna rutin KRL (sekarang hanya sesekali saja), saya sangat setuju bahwa keselamatan itu sangat penting. 

Hal ini bolak balik dinyatakan oleh para pejabat KAI sewaktu ingin menaikkan ongkos Commuter Line (CL) beberapa bulan yang lalu. Namun CL juga jauh dari kenyamanan karena apabila kondisi penuh sesak dan padat, saya pribadi lebih suka menggunakan KRL Ekonomi yang bisa mendapatkan 'udara' dari jendela-jendela yang terbuka. Saya merasakan naik CL itu saya bisa tidak 'selamat' karena kekurangan oksigen. 

Beliau juga menambahkan bahwa ada 2 hal penting yang tak bisa ditawar sama sekali dalam pelayanan kereta api yang harus berlaku sama bagi semua penumpang. Pertama, adalah keselamatan. Gerbong KRL Ekonomi ada yang beroperasi sejak tahun 1974 dan suku cadangnya sudah tidak diproduksi lagi. Hal ini berpengaruh pada keselamatan. Kedua, adalah waktu. "Siapa yang berangkat duluan berhak sampai duluan. Yang berangkat lebih pagi punya hak datang lebih awal. Nah, pelayanan kita akan mengarah ke sana," Saat ini masalahnya adalah gerbong krl ekonomi dan itu adalah statement mereka. Lantas kenapa juga bukannya ganti gerbong eh malah MENGHAPUS KRL Ekonomi. 

Sebagai orang yang mampu berpikir jernih dan logis, saya sangat berusaha untuk mengerti namun tetap tidak bisa mengerti langkah penyelesaian masalah yang diajukan.

Sebagai perusahaan yang dituntut untuk untung terus, sang CEO tidak bisa disalahkan karena dipikirannya adalah memberikan profit kepada pemegang saham. Bagi pengelola, mereka menyiapkan KRL dan perusahaan dapat laba bahkan laba sebesar-besarnya. Apalagi dengan tidak adanya 'pesaing' (KRL swasta), otomatis, mereka berpikir bahwa pengguna dipersilahkan menerima apa adanya atau silahkan menggunakan moda transportasi lain (baca: Take It or Leave It). Namun mereka lupa pesaing mereka memang bukan head to head kereta ada juga moda transportasi lain yakni Motor. Mereka sukses memindahkan sebagian pengguna untuk 'menikmati' subsidi lewat BBM.

Well...mungkin juga ini salah satu satu 'terobosan' untuk meningkatkan pelayanan versi pengelola. Mungkin juga pengguna KRL itu pasti banyak yang setuju menurut versi mereka (lagi). Menurut 'kacamata' mereka adalah berangus jenis kereta yang tidak memberikan kontribusi (dengan tidak membeli tiket). Keyakinan mereka sangat tinggi sebab pengguna KRL selalu menurut berapapun kenaikkan tarif tiketnya. Dan memang ternyata hingga saat ini ga ada yang ribut lagi soal harga tiket khan??

Terakhir, adalah sebuah statement resmi di media online dari pimpinan PT KAI bahwasanya pengguna KRL ekonomi mengalami penurunan terus sedangkan pengguna KRL AC mengalami kenaikan setiap tahunnya. Tahu ga sih, turunnya jumlah pengguna KRL Ekonomi itu dikarenakan jumlah perjalanannya dikurangi oleh PT KAI sendiri, dan kenaikan pengguna KRL AC itu juga karena jadwalnya bertambah dan menggantikan jadwal KRL Ekonomi. Yang bikin lucunya lagi, DATA ini merupakan salah satu indikator dalam upaya menghapus KRL Ekonomi. Yang jelas, Kalau mau bohong...mbok ya cari cara yang lebih 'eylekhan'


(Necky, Roker Serpong) 
Sumber:http://krlmania.com/sinyal/read.php?id=2177

0 komentar on Tentang Penghapusan KRL Ekonomi :

Poskan Komentar